F I Q I H

Jumat, 01 April 2011

Fiqh

Fiqh adalah kata yang cukup akrab bagi tiap Muslim. Tapi apakah sebenarnya fiqh itu? Samakah ia dengan syariat? Kalau tidak apa perbedaan keduanya? Fiqh menurut bahasa berarti faham. Sedang dalam terminologi Islam fiqh adalah hukum-hukum Islam tentang perilaku dan perbuatan manusia. Sedangkan syari’at adalah keseluruhan hukum yang diperuntukan oleh Allah SWT bagi manusia guna mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Jadi cakupan kata syari’at lbh luas daripada fiqh. Fiqh hanya membahas tentang perilaku sedangkan syariat selain membahas perilaku dan perbuatan juga mengulas masalah-masalah aqidah keimanan dan keyakinan. Hukum mempelajari fiqh Mempelajari fiqh mempunyai dua hukum. Fardhu ‘ain dan fardhu kifayah. Fardhu ‘ain mempelajari hal-hal yang dibebankan kepada tiap Muslim.
Seperti mempelajari tata cara bersuci shalat puasa dan lain-lain. Sedangkan mempelajari selain itu hukumnya adalah fardhu kifayah seperti mempelajari tata cara pengurusan jenazah fiqh politik dan lain-lain. Sumber-sumber hukum fiqh Fiqh adalah produk ijtihad para ulama. Mereka menyarikan hukum-hukum fiqh tersebut dari sumber-sumbernya yaitu Al-Qur’an. Hadits yaitu ucapan perilaku ketetapan dan sifat-sifat yang dinisbatkan kepada nabi Muhamad SAW. Namun tidak semua hadits dapat dijadikan dalil atau sumber pengambilan hukum. Sebab hanya hadits-hadits yang diyakini berasal dari Rasulullah SAW. atau mempunyai indikasi kuat berasal darinyalah yang dapat dijadikan pedoman. Ijma’ yaitu kesepakatan seluruh ulama-ulama mujtahid pada suatu masa tentang sebuah hukum. Qiyas yaitu menyamakan hukum sesuatu yang tidak ada di dalam Al-Qur’an dan hadits dengan hukum sesuatu yang di atur dalam Al-Qur’an dan hadits karena adanya persamaan kedua hal tersebut. Contoh Al-Qur’an menyebutkan bahwa minuman keras adalah haram.
Ekstasi adalah barang baru yang tidak disebut dalam Al-Qur’an maupun hadits. Karena ekstasi bisa menimbulkan efek yang sama dengan minuman keras maka hukumnya disamakan dengannya yaitu haram. Setiap hukum harus mempunyai landasan dari sumber-sumber hukum tersebut. Jika tidak maka itu tidak boleh diamalkan. Contohnya adalah hukum yang memperbolehkan seorang wanita menjadi imam solat bagi makmum laki-laki. Alasannya adalah bahwa laki-laki itu setara dengan wanita. Kalau laki-laki boleh mengimami wanita maka wanitapun juga boleh menjadi imam bagi laki-laki. Karena hukum ini tidak berdasar pada sumber-sumber hukum di atas dan hanya merupakan pertimbangan akal maka tidak bisa dibenarkan dan karenanya tidak boleh diamalkan. Ruang lingkup bahasan fiqh Sesuai dengan definisi fiqh diatas maka seluruh perbuatan dan perilaku manusia merupakan medan bahasan ilmu fiqh. Ruang lingkup yang demikian luas ini biasanya dibagi dalam beberapa kelompok yaitu
  Thaharah yaitu hal ihwal bersuci baik dari najis maupun dari hadats.
Ibadah yang berisi tentang tata cara beribadah seperti sholat puasa zakat dan haji.Klik lebih lengkap dan Dauwnloud.
READ MORE - F I Q I H

CERAMAH

Hakikat dakwah Islam pada dasarnya adalah menyerukan apa yang diperintahkan Allah SWT dan menjauhkan semua yang dilarang-Nya. Masalah langkah teknis dan strategi dakwah itu sendiri sepenuhnya diserahkan bagi para da’i untuk ‘berijtihad’ dengan mempertimbangkan aspek-aspek kontemporer yang dihadapi oleh dakwah Islam itu sendiri. Secara sederhana, posisi peran da’i adalah berkontestasi dalam berbagai ranah yang ada untuk memenangkan dakwah Islam ini.
Hasan al-Banna dalam Risalah Pergerakan menulis bahwa hakikat dakwah karakter dakwah Islam adalah Rabbaniyah ‘Alamiyah. Dikatakan rabbaniyah karena hakikat dakwah Islam ini adalah memperkenalkan manusia kepada Rabbnya. Dimensi materi bukan menjadi orientasi utama dari dakwah Islam ini, melainkan sebuah ketunduk-patuhan kepada Allah SWT sebagai Rabb semesta alam. Namun, bukan berarti dakwah Islam menegasikan eksistensi materi. keberadaan materi hanyalah orientasi pengantara yang ditujukan sebagai sarana dalam membangun hubungan transendental yang mengikat manusia sebagai hamba kepada Allah tabaraka wa ta’ala.
Sementara itu, dikatakan ‘alamiyah karena dakwah Islam ditujukan bagi manusia secara keseluruhan. Dakwah Islam yang diwariskan oleh Nabi saw memiliki orientasi pada pembinaan manusia, tanpa memandang perbedaan-perbedaan fisik dan regional. Dakwah Islam tidak hanya dikhususkan bagi masyarakat lokal Arab di jazirah timur tengah. Namun, jauh dari batasan sempit tersebut. Dakwah Islam dikhususkan bagi seluruh masyarakat dunia, yang meliputi berbagai ras dan etnik, di berbagai penjuru dunia. Dengan pandangan ini, tidak ada alasan, terlebih tuduhan, bahwa dakwah Islam merupakan agenda rasial yang hanya ditujukan pada golongan tertentu dari umat manusia ini.
Karena ditujukan kepada manusia, maka dakwah Islam ini bukan ajaran normatif yang tidak dapat direalisasikan dalam kehidupan manusia. Konsep dakwah Islam bukanlah nilai ideal yang abstrak yang jauh dari realitas kemanusiaan. Dakwah Islam merupakan seruan yang realistis dan acheivable bagi manusia. Hal tersebut tampak telah dibuktikan di masa Nabi saw, yang mampu mengimplementasikan secara sempurna ajaran-ajaran rabbaniyah Islam dengan kapasitasnya sebagai manusia biasa. Di sini, dakwah Islam memiliki tujuan untuk membina manusia dengan karakter kemanusiaannya dalam panduan nilai-nilai ilahiyah. Konsep Rabbaniyah ‘Alamiyah inilah yang seharusnya menjadi basis gerakan dari dakwah Islam dalam menghadapi setiap tantangan di setiap masanya. Klik Untuk lebih Lengkap dan Dauwnlaud.
READ MORE - CERAMAH

DZIKIR DAN SYUKUR

. DZIKIR DAN SYUKUR
Allah ta’ala berfirman (yang artinya),”Ingatlah kepada-Ku, Aku juga akan ingat kepada kalian. Dan bersyukurlah kepada-Ku, janganlah kalian kufur.” (QS. Al Baqarah [2] : 152).
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah berkata :
Allah ta’ala memerintahkan untuk berdzikir kepada-Nya, dan menjanjikan balasan yang terbesar karenanya. Balasan itu ialah Allah akan mengingat orang yang mengingat-Nya. Sebagaimana yang difirmankan-Nya melalui lisan Rasul-Nya, ”Barang siapa yang mengingat-Ku dalam dirinya sendiri, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Dan barang siapa yang mengingat-Ku dalam keramaian, Aku akan mengingat-Nya di perkumpulan yang lebih baik dari mereka”.
Dzikir kepada Allah ta’ala yang paling utama adalah dengan menyesuaikan isi hati dengan dzikir yang diucapkan oleh lisan. Itulah dzikir yang dapat membuahkan pengenalan kepada Allah, rasa cinta kepada-Nya, dan pahala yang melimpah dari-Nya. Dzikir adalah bagian terpenting dari syukur. Oleh sebab itu Allah memerintahkannya secara khusus, kemudian sesudahnya Allah memerintahkan untuk bersyukur secara umum. Allah berfirman (yang artinya), ”Maka bersyukurlah kepada-Ku”. Yaitu bersyukurlah kalian atas nikmat-nikmat ini yang telah Aku karuniakan kepada kalian dan atas berbagai macam bencana/musibah yang telah Aku singkirkan sehingga tidak menimpa kalian.
Syukur direalisasikan dalam bentuk pengakuan di dalam hati atas segala macam nikmat yang diberikan. Sedangkan dengan lisan dalam bentuk dzikir dan pujian. Dan diwujudkan oleh anggota badan dalam bentuk amal ketaatan kepada Allah, tunduk kepada perintah-Nya, serta dengan menjauhi larangan-Nya. Dengan syukur, nikmat yang sudah ada akan tetap terpelihara, dan nikmat yang luput akan kembali bertambah. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), ”Sungguh, jika kalian bersyukur (kepada-Ku), Aku pasti akan menambahkan nikmat kepada kalian”.
Disebutkannya perintah untuk bersyukur setelah penyebutan berbagai macam nikmat diniyah yang berupa ilmu, penyucian akhlaq, dan taufik untuk beramal, maka itu menjelaskan bahwa sesungguhnya nikmat diniyah adalah nikmat yang paling agung. Bahkan, itulah nikmat yang sesungguhnya. Apabila nikmat yang lain lenyap, nikmat tersebut masih tetap ada. Sudah selayaknya setiap orang yang telah mendapatkan taufik (dari Allah) untuk berilmu atau beramal untuk bersyukur kepada Allah atas nikmat itu. Hal itu supaya Allah menambahkan karunia-Nya kepada mereka. Dan juga, supaya lenyap perasaan ujub (kagum diri) dari diri mereka. Dengan demikian, mereka akan terus disibukkan dengan bersyukur.
Karena lawan dari syukur adalah ingkar/kufur, maka Allah pun melarang melakukannya. Allah berfirman (yang artinya), ”Dan janganlah kalian kufur”. Yang dimaksud dengan kata kufur di sini adalah yang menjadi lawan dari kata syukur. Maka dari itu, berarti kufur di sini bermakna tindakan mengingkari nikmat dan menentangnya; tidak menggunakannya dengan baik. Dan bisa jadi maknanya lebih luas daripada itu, sehingga ia mencakup banyak bentuk pengingkaran. Pengingkaran yang paling besar adalah kekafiran kepada Allah, kemudian diikuti oleh berbagai macam perbuatan kemaksiatan yang beraneka ragam jenisnya dari yang berupa kemusyrikan sampai yang ada di bawah-bawahnya.
(Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 74).Klik Untuk lebih lengkap dan Dawunlod
READ MORE - DZIKIR DAN SYUKUR

MENJAGA LISAN

MENJAGA LISAN
Lisan (lidah) memang tak bertulang, sekali kita gerakkan sulit untuk kembali pada posisi semula. Demikian berbahayanya lisan, hingga Allah dan Rasul-Nya mengingatkan kita agar berhati-hati dalam menggunakannya.
Allah Swt telah memerintahkan kita semua untuk berkata yang benar, seperti tertulis dalam firmanNya, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab: 70)
Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang dibenci oleh Allah yang dia tidak merenungi (akibatnya), maka dia terjatuh dalam neraka Jahannam.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6092)
Rasulullah bersabda:“Sesungguhnya seorang hamba apabila berbicara dengan satu kalimat yang tidak benar (baik atau buruk), hal itu menggelincirkan dia ke dalam neraka yang lebih jauh antara timur dan barat.” (Shahih, HR. Al-Bukhari No. 6091 dan Muslim No. 6988 dari Abu Hurairah )
Rasulullah bersabda: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Al-Imam Al-Bukhari hadits no. 6089 dan Al-Imam Muslim hadits no. 46 dari Abu Hurairah)

Berikut ini beberapa manfaat menjaga lisan kita menurut hadits shahih :
1.   Akan mendapat keutamaan dalam melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6090 dan Muslim no. 48)
2.   Dalam hadits Abu Musa Al-Asy’ari, Rasulullah ketika ditanya tentang orang yang paling utama dari orang-orang Islam, beliau menjawab: “(Orang Islam yang paling utama adalah) orang yang orang lain selamat dari kejahatan tangan dan lisannya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 11 dan Muslim no. 42)
3.   Mendapat jaminan dari Rasulullah Saw untuk masuk ke surga. Rasulullah Saw bersabda dalam hadits dari Sahl bin Sa’d: “Barangsiapa yang menjamin untukku apa yang berada di antara dua rahangnya dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan) maka aku akan menjamin baginya al-jannah (surga).” (HR. Al-Bukhari no. 6088)
4.  Dalam riwayat Al-Imam At-Tirmidzi no. 2411 dan Ibnu Hibban no. 2546, dari shahabat Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang dijaga oleh Allah dari kejahatan apa yang ada di antara dua rahangnya dan kejahatan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan) maka dia akan masuk surga.”
5.   Allah akan mengangkat derajat-Nya dan memberikan ridha-Nya kepadanya. Rasulullah bersabda dalam hadits dari Abu Hurairah: “Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat dari apa yang diridhai Allah yang dia tidak menganggapnya (bernilai) ternyata Allah mengangkat derajatnya karenanya.” (HR. Al-Bukhari no. 6092)
6.   Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah Saw bersabda. “Sesungguhnya Allah meridhai kalian pada tiga perkara dan membenci kalian pada tiga pula. Allah meridhai kalian bila kalian hanya menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukannya serta berpegang teguh pada tali (agama) Allah seluruhnya dan janganlah kalian berpecah belah. Dan Allah membenci kalian bila kalian suka qila wa qala (berkata tanpa berdasar), banyak bertanya (yang tidak berfaedah) serta menyia-nyiakan harta” (HR. Muslim hadits no. 1715.)
7.   Dalam riwayat Al-Imam Malik, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali dalam Bahjatun Nazhirin (3/11), dari shahabat Bilal bin Al-Harits Al-Muzani bahwa Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya seseorang berbicara dengan satu kalimat yang diridhai oleh Allah dan dia tidak menyangka akan sampai kepada apa (yang ditentukan oleh Allah), lalu Allah mencatat keridhaan baginya pada hari dia berjumpa dengan Allah.”
Karena itu, marilah kita berpikir terlebih dahulu, atas segala sesuatu yang mau kita katakan. Jika sekiranya apa yang akan kita katakan tidak akan membawa mudharat, maka silahkan kita berbicara. Akan tetapi, jika kita perkirakan perkataan kita itu akan membawa mudharat atau ragu apakah membawa mudharat atau tidak, maka sebaiknya kita tidak usah berbicara.
Setelah kita mengetahui keutamaan menjaga lisan dan bahayanya jika kita tidak bisa menjaganya, mari mulai sekarang kita jaga lisan kita dengan sebaik-baiknya, karrena segala esuatu yangkita ucapkan, kelak akan diminta pertanggungjawabannya dihadapan Allah Swt.


2. MALU BAGIAN DARI IMAN
Kalau kita jalan-jalan ke mall atau pusat pertokoan, maka kita akan melihat suatu pemandangan yang sudah tidak asing lagi dimata kita, dimana, sebagian wanita, baik itu dari kalangan remaja, dewasa dan bahkan ada dari golongan karyawati kantor, yang berpakaian ketat membentuk tubuh atau mengenakan pakaian yang tipis dan mini.  Padahal Rasulullah SAW telah bersabda : Dua golongan termasuk ahli neraka, aku belum pernah melihat mereka; satu kaum (penguasa) yang membawa cambuk (besar) seperti ekor sapi, dengannya mereka memukuli manusia (maksudnya, penguasa yang zolim), dan kaum wanita yang berpakaian tetapi telanjang, menggoda dan menyimpang, kepala mereka seperti punuk unta yang miring, mereka tidak akan masuk syurga dan tidak akan mendapati aromanya, padahal aromanya bisa didapat dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim).
Padahal Allah SWT berfirman: ”….Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Ahzab [33] : 59)
Para wanita pengumbar aurat ibarat orang yang tidak punya malu. Perempuan seperti itu, ada kita temui dari kalangan artis, walau tidak semua artis seperti itu. Ada beberapa artis yang tidak malu memamerkan keelokan tubuhnya. Contohnya, ada penyanyi dangdut berpakaian sangat ketat yang beraksi di panggung dengan menggoyang-goyangkan seluruh tubuhnya, terutama bagian yang sangat sensistif.  Ketika ada reaksi kritikan dari Ulama dan ummat Islam, aksi maksiat menggoncang syahwat itu justru lebih digencarkan lagi oleh orang-orang yang menjadikan maksiat sebagai alat melawan Islam. Inikah orang-orang yang disebut oleh Nabi SAW, sebagai orang yang menghalalkan zina, sutera, khamr (minuman keras), dan musik-musik?  Rasulullah SAW, telah menyatakan: Pasti akan ada di antara ummatku kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamr, dan musik-musik”. (HR. Bukhari).
Nabi SAW, telah mengingatkan secara tegas, hadist yang diriwayatkan oleh Usamah bin Zaid ra: Rasulullah SAW, bersabda, maksud Hadist: “Tidak ada fitnah yang paling membahayakan kaum lelaki setelah sepeninggalku kecuali fitnah dari kaum wanita” . (HR. Bukhari dan Muslim).
Perhatikan hadits Rasulullah SAW berikut ini:: “Akan ada di akhir ummatku orang-orang yang naik di atas pelana seperti layaknya orang-orang besar, mereka singgah di depan pintu-pintu masjid, WANITA-WANITA MEREKA BERPAKAIAN NAMUN TELANJANG, di atas kepala mereka ada semacam punuk unta, LAKNATLAH MEREKA KARENA SESUNGGUHNYA MEREKA ITU TERLAKNAT” (HR. Ahmad).
Berikut beberapa hadits tentang malu :
  1. Rasulullah SAW. menjadikan sifat malu sebagai bagian dari cabang iman. Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah SAW. bersabda, “Iman memiliki 70 atau 60 cabang. Paling utama adalah ucapan ‘Laa ilaaha illallah’, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan di jalan. Dan sifat malu adalah cabang dari keimanan.” (HR. Muslim dalam Kitab Iman, hadits nomor 51)
  2. Rasa malu adalah cabang dari iman. Sebagaimana Rasulullah SAW menyatakan: “Iman terdiri dari enam puluh cabang lebih dan rasa malu sebagian cabang dari iman (HR. Bukhori)
  3. Rasa malu sebagai hiasan semua perbuatan. Dalam hadits yang diriwayatkan Anas r.a. bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: “Tidaklah ada suatu kekejian pada sesuatu perbuatan kecuali akan menjadikannya tercela dan tidaklah ada suatu rasa malu pada sesuatu perbuatan kecuali akan menghiasinya. (Musnad Ahmad)
  4. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda pada Al Asyaj al ‘Asry ; “Sesungguhnya dalam dirimu terdapat dua sifat yang dicintai Allah yaitu kesabaran dan rasa malu. (Musnad ahmad)
  5. Diriwayatkan dari abdillah Ibni Mas’ud r.a. ia berkata, Rasulullah SAW telah bersabda pada suatu hari : “Milikilah rasa malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya.! Kami (para sahabat) berkata: Wahai Rasulullah sesungguhnya kami alhamdulillah telah memiliki rasa malu. Rasulullah  SAW bersabda: ”Bukan sekedar itu akan tetapi barangsiapa yang malu dari Allah dengan sesungguhnya, hendaknya menjaga kepalanya dan apa yang ada di dalamnya, hendaknya ia menjaga perutnya dan apa yang didalamnya, hendaknya ia mengingat mati dan hari kehancuran. Dan barangsiapa menginginkan akhirat ia akan meninggalkan hiasan dunia. Barangisapa yang mengerjakan itu semua berarti ia telah merasa malu kepada allah dengan sesungguhnya.(Musnad Ahmad).
  6. Tentang kesejajaran sifat malu dan iman dipertegas lagi oleh Rasulullah SAW “Malu dan iman keduanya sejajar bersama. Ketika salah satu dari keduanya diangkat, maka yang lain pun terangkat.” (HR. Hakim dari Ibnu Umar. Menurut Hakim, hadits ini shahih dengan dua syarat-syarat Bukhari dan Muslim.)
  7. Karena itu, sifat malu membawa kebaikan bagi pemiliknya. “Al-hayaa-u laa ya’tii illa bi khairin, sifat malu tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan,” begitu kata Rasulullah SAW. (HR. Bukhari dalam Kitab Adab, hadits nomor 5652)
  8. Dengan kata lain, seseorang yang kehilangan sifat malunya yang tersisa dalam dirinya hanyalah keburukan. Buruk dalam ucapan, buruk dalam perangai. Tidak bisa kita bayangkan jika dari mulut seorang muslimah meluncur kata-kata kotor lagi kasar. Bertingkah dengan penampilan seronok dan bermuka tebal. Tentu bagi dia surga jauh. Kata Nabi, “Malu adalah bagian dari iman, dan keimanan itu berada di surga. Ucapan jorok berasal dari akhlak yang buruk dan akhlak yang buruk tempatnya di neraka.” (HR. Tirmidzi dalam Ktab Birr wash Shilah, hadits nomor 1932)
Wanita yang beriman adalah wanita yang memiliki sifat malu. Sifat malu tampak pada cara dia berbusana. Ia menggunakan busana takwa, yaitu busana yang menutupi auratnya. Para ulama sepakat bahwa aurat seorang wanita di hadapan pria adalah seluruh tubuhnya, kecuali wajah dan telapak tangan.
Ibnu Katsir berkata, “Pada zaman jahiliyah dahulu, sebagian kaum wanitanya berjalan di tengah kaum lelaki dengan belahan dada tanpa penutup. Dan mungkin saja mereka juga memperlihatkan leher, rambut, dan telinga mereka. Maka Allah memerintahkan wanita muslimah agar menutupi bagian-bagian tersebut.”
Menundukkan pandangan juga bagian dari rasa malu. Sebab, mata memiliki sejuta bahasa. Kerlingan, tatapan sendu, dan isyarat lainnya yang membuat berjuta rasa di dada seorang lelaki. Setiap wanita memiliki pandangan mata yang setajam anak panah dan setiap lelaki paham akan pesan yang dimaksud oleh pandangan itu. Karena itu, Allah SWT. memerintahkan kepada lelaki dan wanita untuk menundukkan sebagaian pandangan mereka.
Perhatikan firman Allah SWT berikut ini: Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An Nuur [24] : 31)
Karena itu bagi para wanita, pakailah pakaian yang yang sesuai syariat, tidak memakai wewangian secara berlebihan, batasi diri dalam berbicara dan menatap, serta jaga kewibawaan dalam beraktivitas. Ingatlah, tiada yang dapat meninggikan harga wanita melebihi sikap Iffah (menjaga kehormatan diri).
Islam tidak mengekang wanita. Seorang wanita bisa terlibat dalam kehidupan sosial bermasyarakat, berpolitik, dan berbagai aktivitas lainnya. Islam hanya memberi frame dengan adab dan etika. Sifat malu adalah salah satu frame yang harus dijaga oleh setiap wanita muslimah yang meyakini bahwa Allah SWT mengetahui pikiran isi hati yang tersimpan dalam dadanya.
Karena itu, menjadi penting bagi kita untuk menghiasi diri dengan sifat malu. Dari mana sebenarnya energi sifat malu bisa kita miliki? Sumber sifat malu adalah dari pengetahuan kita tentang keagungan Allah. Sifat malu akan muncul dalam diri kita jika kita benar-benar menyadari bahwa Allah itu Maha Mengetahui, Maha Melihat. Tidak ada yang bisa kita sembunyikan dari Penglihatan Allah. Segala lintasan hati dan pikiran, niat yang terbersit dalam hati kita, semua diketahui oleh Allah SWT.
Jadi, sumber sifat malu adalah muraqabah. Muraqabah adalah menerapkan kesadaran bahwa Allah selalu melihat dan  mengawasi  kita dalam segala keadaan. Bahwa Allah selalu mengetahui apa yang kita rasakan, ucapkan dan kita perbuat . Sifat itu hadir setika kita merasa di bawah pantauan Allah SWT. Dengan kata lain, ketika kita dalam kondisi ihsan, sifat malu ada dalam diri kita. Apa itu ihsan? “Engkau menyembah Allah seakan melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Ia melihatmu,” begitu jawaban Rasulullah SAW. atas pertanyaan Jibril tentang ihsan.
Jadi, bila masih ada dari kita atau adik dan atau anak kita, yang dalam berpakain mengikuti trend busana yang lagi banyak digandrungi para remaja dengan pakaian minim, ketat, maka sebaiknya kita menegurnya dan mengarahkannya pada cara berpakian yang benar menurut ajaran agama Islam. Tentunya kita tidak ingin, anak, adik, saudara kita atau orang yang kita sayangi menjadi ahli neraka dan orang yang dilaknat, yang disebutkan dalam hadits di atas. Apalagi Allah SWT telah menegaskan dalam firman-Nya di surah An Nuur ayat 31 (lihat diatas). klik untuk lebih lanjud dan Dawnlod
READ MORE - MENJAGA LISAN
Rabu, 09 Maret 2011
PENDIDIKAN DAN KOMPOTENSI


A. Pengantar
           Sejak ilmu pengetahuan dan tekhnologi berkembang, perjalanan sejarah ummat manusia mengalami perubahan dan perkembangan pesat. Demikian juga kemajuan peradaban nampak dalam pola hidup dan intraksi antar manusia, di mana hubungan pergaulan antara sesama manusia semangkin baik, halus, akrab, bersahabat, dan sebagainya.
           Semangkin tingginya tingkat Iptek dan semangkin majunya peradaban, maka tuntutan dunia kerja juga semangkin tinggi dan kompotitif.
            Pada saat ini, apapun pekerjaanya menuntut kemampuan profesionalitas yang semangkin baik. kemampuan profesional tersebut mencakup kemampuan teknis atas pekerjaan dan juga kematanggan pribadi yang memadai. Jadi profesionalisme yang dimaksud tidak terbatas pada ahli dibidangnya, tapi terkait juga dengan aspek kepribadian seseorang secara lebih luas.
            Terkait dengan  tuntutan profesionalitas, maka ada beberapa fakta yang perlu dicermati terutama oleh ummat Islam dan mahasiswa pada umumnya.
1. Fakta yang terjadi saat ini adalah bahwa harapan atau keinginan masyarakat terhadap sesuatu produk dan jasa perubahan dan berkembang terus menerus.
2. Konfigurasi dunia kerja,
3. Terobosan didunia teknologi,
4. Globalisasi ekonomi.


PERINTAH UNTUK MENGGUASAI IPTEK
           Negara Indonesia,pada saat ini lebih menjadi target pasar bagi industri lain.





READ MORE -

KERANGKA DASAR ISLAM ( AQIDAH, SYARIAH, AKHLAK)

Selasa, 08 Maret 2011
 KERANGKA DASAR ISLAM ( AQIDAH, SYARIAH, AKHLAK)

      Islam pada hakekatnya adalah aturan atau undang-undang Allah SWT yang terdapat dalam kitab Allah dan Sunnah Rasulnya yang meliputi perintah-perintah dan larangan-larangan, serta petunjuk-petunjuk untuk menjadi pedoman hidup dan kehidupan ummat manusia guna kebahagiaanya di dunia dan akhirat. Adapun secara garis besar ruang lingkup ajaran Islam meliputi tiga hal pokok,yaitu:

1. A K I D A H

          Sistem kepaercayaan Islam atau akidah dibangun di atas enam dasar keimanan yang lazim disebut Rukun Iman. Rukun Iman meliputi keimanan kepada Allah,malaikat, kitab-kitab, rasul, haru akhir dan qodha dan qadar. sebagaimana firman Allah dalam surah An-Nisa ayat 136.
 " Wahai orang-orang yang beriman tetaplah beriman kapada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang diturunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barang siapa inkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya,dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya".                                                                                   Berdasarkan fondasi yang enam tersebut, maka keterikatan setiap muslim kepada Islam yang semestinya ada pada jiwa muslim adalah:                                                                                                                        

a. Meyakini bahwa Islam adalah agama yang terakhir, mengandung syariat yang menyempurnakan syariat-syariat yang diturunkan Allah sebelumnya.Sebagaimana Allah berfirman:
   "Tidaklah Muhammad seorang bapak (bagi) salah seorang laki-laki di antara kamu, melainkan dia  
     itu utusan Allah dan penutup para nabi"                                                                                               b. Meyakini bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar di sisi Allah karena Islam adalah agama yang     dianut oleh para Nabi sejak Nabi Adam as sampai Nabi Muhammad SWT. Islam datang dengan membawa kebenaran yang bersifat absolut guna menjadi pedoman hidup dan kehidupan manusia selarasnya dengan fitrahnya. Allah berfirman dalam surah Ali-Imran ayat 19: 
    "Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam"                                                                              c. Meyakini Islam adalah agama yang universal dan berlaku untuk semua manusia, serta mampu menjawab segala persoalan yang muncul dalam segala lapisan masyarakat dan sesuai dengan tuntutan budaya manusia sepanjang zaman. Sebagaimana firman Allah dalam surah As-Saba,ayat28:
   "Dan tiadalah kami utus kamu (Muhammad) melainkan untuk semua manusia sebagai berita gembira dan peringatan. Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."                                          
2. S Y A R I A H                          

      Komponen Islam yang kedua adalah Syariah yang berisi peraturan dan perundang-undangan yang mengatur aktifitas yang seharusnya dikerjakan dan yang tidak boleh dikerjakan manusia.
      Syariat adalah sistem nilai Islam ditetapkan oleh Allah sendiri dalam kaitan ini Allah disebut sebagai Syaari' atau pencipta hukum.
      Sistem nilai Islam secara umum meliputi dua bidang :
a.    Syariat yang mengatur hubungan manusia secara vertikal dengan Allah, seperti sholat, puasa, dan haji, serta yang juga berdimensi hubungan dengan manusia, seperti zakat . Hubungan manusia dalam bentuk peribadatan biasa dengan Allah disebut ibadah mahdhah atau ibadah khusus, karena sifatnya yang khas dan tata caranya sudah ditentukan secara pasti oleh Allah dan dicontohkan secara rinci oleh Rasulullah.
b.    Syariat yang mengatur hubungan manusia secara horizontal, dengan sesama manusia dan makhluk lainnya disebut muamalah. Muamalah meliputi ketentuan atau peraturan segala aktivitas hidup manusia dalam pergaulan dengan sesamanya dan dengan alam sekitarnya.

3. A K H L A K    

        Akhlak merupakan komponen dasar Islam yang ketiga yang berisi ajaran tentang perilaku atau moral. Dalam kamus Bahasa Indonesia,kata akhlak diartikan sebagai budi pekerti atau kelakuan.Kata akhlak merupakan bentuk jamak dari kata khuluk artinya dayan kekuatan jiwa yang mendorong perbuatan dengan mudah dan spontan tanpa dipikir dan direnungkan lagi. Dengan demikian, akhlak pada dasarnya adalah sikap yang melekat pada diseseorang yang secara spontan diwujudkan dalam tingkah laku atau perbuatan.
        Dalam pandangan Islam, akhlak merupakan cerminan dari apa yang ada dalam jiwa seseorang. Karena itu akhlak yang baik merupakan dorongan dari keimanan seseorang, sebab keimanan harus ditampilkan dalam prilaku nyata sehari-hari.Inilah misi diutusnya Nabi Muhammad SAW.
        Menurut obyek atau sasaranya pembahasan tentang akhlak biasanya dikategorikan  menjadi 3:
a.   Akhlak kepada Allah, meliputi beribadah kepada Allah, berzikir kepada Allah, berdoa kepada Allah,dan tawakkal kepada Allah.

b.   Akhlak kepada manusia, meliput : pertama sabar,yaitu prilaku sesorang terhadap dirinya sendiri sebagai hasil dari pengendalian nafsu dan penerimaan terhadap apa yangmenimpanya. Kedua Syukur yaitu sikap berterima kasih atas pemberian nikmat. Ketiga Tawadhu' yaitu rendah hati,selalu menghargai siapa saja yang dihadapinya, orang tua,kaya,miskin,tua dan muda.

c.    Akhlak kepada orang tua adalah berbuat baik kepadanya dengan ucapan dan perbuatan.
d.    Akhlak kepada keluarga, yaitu mengembangkan kasih sayang di antara anggota keluarga yang diungkapkan dalam bentuk komunikasi melalui kata-kata maupun prilaku.
e.    Akhlak kepada lingkungan hidup.
       Misi agama Islam adalah mengembangkan rahmat, kebaikan dan kedamaian bukan hanya  kepada manusia tetapi juga kepada alam dan lingkungan hidup, sebagaimana firman Allah: 
" Tidaklah kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam" (Al-Anbiya.ayat 107)
        Memakmurkan alam adalah mengelola sumberdaya sehingga dapat memberi manfaat bagi kesejahteraan manusia tanpa merugikan alam itu sendiri.Allah menyediakan alam yang subur ini untuk disikapi oleh manusia dengan kerja keras mengelola memeliharanya sehingga melahirkan nilai tambah yang tinggi. Sebagaiman firman Allah dalam surah Hud ayat 61:
" Dia menciptakan kalian dari bumi dan menyediakan kalian sebagai pemakmurnya".
READ MORE - KERANGKA DASAR ISLAM ( AQIDAH, SYARIAH, AKHLAK)

ISLAM DAN PERUBAHAN MASYARAKAT

Senin, 07 Maret 2011
ISLAM DAN PERUBAHAN MASYARAKAT

A. Arti Islam


        Islam adalah agama yang berdasarkan pada ketundukan terhadap aturan Allah. Islam adalah agama penghambaan kepada Allah, yang mencipta, mengatur, memelihara alam semesta.Bila dicari dari asal katanya, Islam berasal dari kata aslama yang merupakan turunan dari kata assalmu,assalamu,assalamatu yang artinya tunduk dan patuh,bersih dan selamat dari catatan lahir batin. Dari asal kata ini dapat diartikan bahwa dalam Islam terkandung makna suci, bersih tanpa cacat atau sempurna.Kata Islam juga dapat diambil dari kata assilmu yang berarti juga perdamaian dan keamanan. Dari asal kata ini Islam mengandung makna perdamaian dan keselamatan, karena itu kata asslamu'alaikum merupakan tanda kecintaan seseorang muslim kepada orang lain, yang selalu menebarkan doa dan kedamaian kepada sesama.
        Pengertian Islam secara terminologis sebagaimana diungkapkan Ahmad Abdullah Almasdoosi bahwa Islam adalah kaidah hidup yang diturunkan kepada manusia sebagai makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna diturunkan ke permukaan bumi ini.
         Dari defenisi diatas dapat disimpulkan bahwa Islam adalah agama yang diturunkan Allah kepada manusia melalui rasul-rasul-Nya, yang berisi hukum-hukum yang mengatur hubunggan manusia dengan Allah, manusia dengan  manusia, dan manusia dengan alam semesta. 
          Agama Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw adalah agama Islam yang terakhir yang diturunkan Allah kepada manusia.

B.ISLAM DALAM PERUBAHAN MASYARAKAT
           
           Islam dalam arti agama yang disampaikan melalui Nabi Muhammad saw,lahir bersama dengan turunnya Al-Quran empat belas abad lebih yang lalu. Masyarakat jahiliyah adalah masyarakat yang pertama kali bersentuhan dengannya, serta masyarakat pertama pula yang berobah pola pikir, sikap, dan tingkah lakunya, sebagaimana dikehendaki Islam.
            Masyarakat jahiliyah memiliki pola pikir,sikap, dan tingkah laku yang terpuji dan yang tercela. Dalam hal ini, Islam menerima dan mengembangkan yang terpuji, namun menolak dan meluruskan yang tercela. Hasan Ibrahim Hasan menyebutkan beberapa adat kebiasaan mereka yang tercela antara lain:
1. Musyrik (menyekutu Allah) dan penyembahan berhala,
2. Pendukunan dan Khurafat,
3. Mabuk-mabukan dan masih banyak lagi.
           Sedangkan sifat positifnya dicatat oleh Ahmad Amin,seperti:semangat dan keberanian, kedermawanan,dan kebaktian kepada suku.

SYARAT UTAMA PERUBAHAN

            Perubahan dapat terlaksana melalui pemahaman dan penghayatan nilai-nilai Al-Quran, serta kemampuan memanfaatkan dan menyesuaikan diri dengan hukum-hukum sejarah.
             Al-Quran adalah kitab pertama yang terkenal ummat manusia yang berbicara tentang hukum-hukum sejarah dalam masyarakat dan bahwa hukum-hukum tersebut, sebagaimana hukum alam, tidak mungkin mengalami perubahan.
             Uraian Al-Quran tentang hukum-hukum tersebut adalah wajar, karena sejak semula Al-Quran memperkenalkan dirinya sebagai kitab suci yang berfungsi melakukan perubahan-perubahan positif atau menurut bahasa Al-Quran, Al-Quran dalam hal ini tidak menjadikan dirinya sebagai alternatif pengganti usaha manusiawi, tetapi sebagai pendorong dan pemandu, demi berperannya manusia secara positif dalam bidang-bidang kehidupan.
             Dari ayat-ayat Al-Quran dapat dipahami bahwa perubahan baru dapat terlaksana bila dipenuhi dua syarat pokok: (a) adanya nilai; dan (b) adanya pelaku-pelaku yang menyesuaikan diri dengan nilai-nilai tersebut.
             Manusia adalah para pelaku yang menciptakan sejarah. Yang ditekankan Al-Quran tentang diri manusia bukanlah bentuk lahiriyahnya, tetapi kepribadiannya atau manusia dalam totalitasnya. Menurut Al-Quran nilai-nilai luhur  sekalipun, jika tidak terhayati dalam kepribadian seseorang, tidak akan menghasilkan perubahan apa-apa kecuali selogan-selogan kosong.
             Perubahan yang terjadi pada diri seseorang harus diwujudkan dalam dasar yang kokoh, sehingga perubahan yang terjadi pada dirinya menciptakan arus gelombang yang menyentuh kesadaran orang lain.
             Perjuangan Nabi Muhammad saw disaat mengajarkan Islam adalah dengan meningkatkan kesadaran moral ummat. Beliau mencoba menggubah tatanan sosial melalui keteladanan moral yang baik.











 
READ MORE - ISLAM DAN PERUBAHAN MASYARAKAT